Minggu, 17 Mei 2015

NAFSU

*oleh : KH Nur Abdurrozaq



Firman Allah:
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dengan bentuk yang sebaik-
baiknya"
Hadis Qudsi,firmanNya:
"Sesungguhnya manusia itu rahsiaKu dan Akulah yang menjadi
rahsianya.Dan rahsia itu sifatKu dan sifatKu tiada lain, Aku lah jua"
Mengenai soal makrifat pula Allah berfirman dalam hadis Qudsi:
"Akulah perbendaharaan yang tersembunyi.Aku ingin supaya dikenali
(dimakrifati), maka Aku jadikan alam ini,maka mereka makrifat kepadaKu"



FirmanNya lagi:
"Sesungguhnya Allah memrintahkan kamu (manusia) memulangkan amanah
kepada yang berhak (Allah)"
Jadi taraf kemuliaan sesorang hamba Allah itu adalah bergantung sejauh
mana taraf makrifatnya kepada Allah. Sekiranya kita sampai mencapai tahap
sebenar-benar makrifat jadilah kita sebaik-baik makhluk sebagaimana
firmanNya:
"Sesungguhnya yang beriman dan beramal soleh, mereka itu adalah sebaik
baik makhluk"
Tapi sebaliknya sekiranya kita gagal untuk mengembalikan amanah untuk
makrifat maka jadilah kita sebagai mana yang di firmankan olehNya:
"Kemudian Kami kembalikan dia di tempat yang serendah-rendahnya"
Dan firmanNya lagi:
"Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk"
Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian
batinnya atau nafsunya.
Nafsu mempunyai dua pengertian:
1. Suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu
berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak,
dendam, sum'ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Tapi
tiada sama sekali pada malaikat. Sabda Rasulullah s.a.w:
"Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua
lambung engkau"
2. Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian "latifah rabbaniyyah' iaitu
sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia
adalah melibatkan soal-soal kerohanian.
Jenis-jenis nafsu adalah:
1. Amarah
2. Lawammah
3. Mulhammah
4. Mutmainah
5. Radhiah
6. Mardhiah
7. Kamaliah

1. AMARAH

Amarah adalah martabat nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi Allah.
Segala yang lahir darinya adalah tindakan kejahatan yang penuh dengan
perlakuan mazmumah (kejahatan / keburukan). Pada tingkat ini hati nurani
tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya karena hijab-hijab dosa
yang melekat tebal, lapisan lampu makrifat benar-benar terkunci. Dan tidak
ada usaha untuk mencari jalan menyucikannya. Karena itulah hatinya terus
kotor dan diselimuti oleh berbagai penyakit.
Firman Allah:
* "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya"
* "Sesungguhnya nafsu amarah itu selalu menyuruh manusia berbuat
keji (mungkar) "
* "Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus)"
Dalam kehidupan sehari-hari segala hukum, halal-haram, perintah dan
larangan tidak pernah di ambil peduli. Bahkan buat kejahatan itu sudah
melekat. Tidak ada penyesalan, bahkan kadang-kadang bangga berbuat jahat.
Misalnya dia bangga dapat merusak anak dara orang, bangga
dengan kehidupan terbalik, minum, berjudi, pergaulan bebas malah jadi
barat lebih dari orang barat. Bagi mereka pada tingkat nafsu ini, konsep
hidupnya adalah sekali, jadi masa mudalah untuk menikmati sepuas-puasnya
tanpa mengenal batas-batas. Baik jahat adalah sama saja di sisinya tanpa
ada perasaan untuk menyesal. Bahkan kadang-kadang bila dapat buat jahat
seolah-olah ada perasaan lega dan puas. kejahatan Dah jadi hobi, bila bisa merusak hidup orang lain maka akan timbul bangganya, orang begini juga kadang lebih rendah dari binatang, binatang itu tdk makan anaknya sendiri, manusia yang masih di liputi nafsu amarah ini bisa makan anaknya sendiri, ibunya di sia siakan, bahkan orang ini jika kamu beri kebaikan maka balasannya sebaliknya,, karena apa? karena hatinya sakit, dan Allah menambah sakitnya, jika di beri kebaikan akan menimbulkan kebencian di hatinya, iri dengki, hasad, dll. dan tak sesiapa akan bisa menasehati, sebab hati orang ini sudah membatu, sakit, sekarat, orang lain tak di anggp semua, dan Hatinya telah dikunci oleh Allah sebagaimana firmanNya:
"Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsunya
(Amarah) menjadi Tuhan dan dia disesatkan oleh Allah karena Allah
mengetahui (kejahatan hatinya) lalu Allah mengunci mati pendengaran
(Telinga batin) dan hatinya dan penglihatan (mata hatinya) diletakan
penutup. "
Manusia pada peringakat nafsu amarah ini bergembira bila menerima
nikmat tetapi berdukacita dan mengeluh bila tertimpa kesusahan.
Firman Allah:
"Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka
gembira dengan rahmat itu.Dan ketika mereka ditimpa suatu musibah
akibat kesalahan tangan mereka sendiri, lantas mereka menyerah. "
Jelasnya pada tahap ini segala tindak tanduknya adalah menuju dan
berdasarkan apa kehendak setan yang mana telah dikuasai sepenuhnya
olehnya (setan). Rupa hanya manusia, tapi hati dikuasai setan.
Pada tahap ini, manusia itu tak makan nasihat. Tegurlah macam
manapun. Dia tetap tak akan berubah kecuali diberi hidayah olehNya.
Mereka tidak pernah takut pada Allah dan hari pembalasan. Bahkan
meremehkan lagi ada. Mengejek dan mencemooh. Mereka tidak pernah
peduli dengan ancaman Allah seperti:
"Akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam dari golongan jin dan manusia
yang memiliki hati tidak memrhati, memiliki mata tidak
melihat, memiliki telinga tidak mendengar.Mereka itu adalah binatang
bahkan lebih hina dari binatang karena mereka termasuk di dalam golongan
yang lalai ".
Mereka suka mencela orang lain, membodohi kelemahan orang lain
dan melihat dirinya sendiri serba sempurna. Mereka tidak pernah
menyandarkan hasil usahanya kepada Allah. Mereka pikir apa saja
keberhasilan mereka adalah susah payah diri sendiri.
Jiwa mereka pada tahap ini adalah kosong dan hubungan dirinya dengan
Allah bisa dikatakan tidak ada.
Dalam konteks penerimaan ilmu, orang yang bernafsu amarah hanya
berupaya menerima ilmu diperingkat ilmu Qalam pintar berbicara, dan jago berdebat, kalau sudah mengalahkan orang lain akan bangga. Terutama yang
mementingkan soal-soal lahiriah dunia saja. Tak ada minat kepada
pelajaran agama dan hari akhirat. Pada tingkat tidak ada peluang sama
sekali untuk menerima ghaib dan ilmu syahadah selagi hatinya kotor dan
tidak disucikan dengan pembersihan zikrillah yang memiliki sarana
bai'at dengan Rasulullah s.a.w. Untuk membebaskan diri dari cengkeraman
nafsu ini harus menemukan jalan wasilah ilmu Rasulullah saw dengan
menerima bimbingan dari ahli zakir yaitu guru mursyid yang dapat
memberikan tips-tips penyucian diri dan penyucian jiwa yang
memiliki mata rantai dengan Rasulullah s.a.w.
Sabda Rasulullah s.a.w:
"Tiap sesuatu ada alat penyucinya dan yang menyuci hati adalah zikir kepada
Allah "
Pada tingkat amarah ini kalau berzikirpun hanya dibibir saja tanpa meresap
ke dalam jiwa. Amarah tidak mengenal siapapun, bahkan ahli kitab sekalipun
meskipun ada persetujuan jelas, walupun bersorban dan berjubah. Amarah
tidak pernah takut dengan itu semua malah lagi senang ia menyerang. Yang
ia takut hanyalah zikrillah.
Sabda Rasulullah s.a.w:
"Sesungguhnya setan itu telah menaruh belalainya pada hati manusia,
maka ketika manusia itu berzikir kepada Allah, maka mundurlah setan
dan ketika ia lupa, maka setan itu menelan hatinya "

2. Nafsu LAWWAMAH 

Nafsu lawwamah adalah nafsu yang selalu mengkritik diri sendiri bila terjadi
suatu kejahatan dosa atas dirinya. Ini lebih baik sedikit dari nafsu
amarah. Karena tidak puas atas dirinya yang melakukan kejahatan lalu
mencela dan mencerca dirinya sendiri. Bila berbuat salah dan dosa dia lebih cepat sadar dan terus kritik dirinya sendiri. Perasaan ini sebenarnya timbul dari sudut hatinya sendiri bila buat dosa, secara otomatis terbitlah semacam bisikan dilubuk hatinya. Inilah yang di katakan lawwamah. Bisikan hati seseorang akan melarang dirinya melakukan sesuatu yang keji timbul secara spontan bila tergores saja dihatinya. Cepat rasa bersalah pada Allah Rasulullah atas keterlanjurannya. Ini ibarat taufik dan hidayah Allah untuk
memimpinnya kembali dari kesesatan dan kesalahan kepada kebenaran dan
jalan yang lurus. Rasulullah s.a.w bersabda:
* "Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah
akan membuat untuknya penasihat dari hatinya sendiri "
* "Barangsiapa yang hatinya menjadi penasihat baginya, maka Allah akan
menjadi pelinding ke atasnya. "
Tapi bila seseorang itu naik ke martabat nafsu lawwamah tapi tidak
mematuhi sinyal lawwamah yang memancar di hatinya, maka lama-
kelamaan sinyal ini akan padam dan redup. Hingga jatuhlah kembali pada
tingkat nafsu amarah kembali. Sebab itu kadang-kadang kita tengok sekejap
orang tu baik, sekejap berubah jahat kembali. Kemudian berubah baik.
Inilah bolak balikan hati yang di sebabkan oleh kondisi nafsunya yang berubah-ubah.
Firman Allah:
* "Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti (suruhan jahat) mereka
setelah datang ilmu (sinyal lawwa-mah) kepadamu, sesungguhnya kamu
termasuk dalam golongan orang-orang yang zalim "
* "Sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya.Dan
sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan (jahat dan keji) mereka,
setelah ilmu diperoleh (datang kepadamu) maka Allah tidak lagi menjadi
pelindung dan penolong bagimu ".
Pada tingkat lawwamah ini masih bergelimang dengan sifat-sifat
mazmumah tapi jumlahnya mulai berkurang sedikit. Keinsafan memancar.
Jika dia terus mematuhi sinyal lawwamah yang ada, sedikit demi
sedikit sifat-sifat keji dapat dihapus. Pada tahap ini dia banyak
meneliti diri sendiri dan merenungkan segala kesalahan yang lampau. Bila
perasaan menyesal datang, orang-orang pada tingkat sangat mudah
mengeluarkan air mata penyesalan. Sering menangis dalam shalat, atau bila
sendirian, sewaktu berzikir, bersolawat. Air matanya bukanlah disengaja
tetapi terjadi secara spontan. Inilah dikatakan sebagai tangisan diri. Pada
tingkat ini mulai banyak mempelajari dan meneliti alam dan kejadian. Bahkan
selalu membandingkan sesuatu dengan dirinya. Mereka juga menjadi gila
untuk beribadat dan cenderung diskusi terkait soal
mengenal diri dan mulai jemu dengan persoalan yang tidak terkait dengan
agama. Perubahan ini bisa jadi tajam jika kita terjun ke alam
tasauf.
Rasulullah s.a.w bersabda:
* "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu perhatiannya pada shalat, puasa
dan ibadat dan orang munafik itu perhatiannya lebih kepada makanan dan
minuman seperti halnya binatang "
* "Sedikit taufik adalah lebih baik dari banyak berpikir dan berpikir
hal duniawi itu mendaruratkan dan sebaliknya berpikir hal agama
pasti mendatangkan kegembiraan "
Pada tingkat ini sudah mementingkan akhirat dari dunia.
Namun kalau dibandingkan dengan amarah itu lebih tinggi sedikit, namun sesekali ia tidak terlepas juga dari jatuh kedalam jurang dosa dan kejahatan.Imannya masih belum kuat.Namun ia cepat sadar dan cepat beristigfar minta ampun kepada Allah.
Firman Allah:
"Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah"
Misalnya kalau tertinggal sembahyang ada perasaan kecut hati dan cepat menyesal sehingga terus pergi kadha.
Antara sifat nafsu lawwamah adalah:
1. Mencela diri sendiri
2. Bermeditasi dan berpikir
3. Membuat kebaikan karena ria
4. Kagim pada diri sendiri yakni 'ujub
5. Membuat sesuatu dengan sum'ah -agar dipuji
6. Takjub pada diri sendiri
Siapapun yang merasa berdegup di hati sifat seperti di atas masih berada
pada tingkat nafsu lawwamah. Ini adalah terdapat pada kebanyakan orang.
Harus kuat berzikir lagi untuk menembus dan menyucikan sisa karat
hati. Zikir pada peringkat nafsu ini masih lagi dibibir tetapi kadang-kadang
sudah mulai meresap masuk ke lubuk hati tapi dalam kondisi yang tidak
istiqomah. Pada tahap ini memang sudah timbul gila beribadat sehingga
kadang-kadang merasa dirinya ringan dan melayang, kadang-kadang
macam hilang dirinya. Rasa semacam semut berderau seluruh tubuhnya
terutama pada bagian tulang belakang dan tangannya. Kondisi beginilah
menimbulkan keasyikan yang menyenangkan dengan praktek zikir dan
ibadat lain.
Pada pringkat ini sudah dapat menerima sedikit ilham hasil dari zauk dan
kadang-kadang mengalami mimpi yang perlu ditafsir kembali oleh guru. Bila
berkelanjutan dengan tips dan praktek yang diberi oleh guru InsyaAllah
nafsunya lawwa-mah ini akan meningkat ke tingkat berikutnya.


3. MULHAMAH

Nafsu ini lebih baik dari amarah dan lawwa-mah.Nafsu mulhamah ini adalah
nafsu yang sudah menerima pelatihan beberapa proses kesucian dari sifat-
sifat hati yang tercemar melalui latihan sufi / tariqat / praktek guru lainnya
yang memiliki sanad dari Rasulullah saw Kesucian hatinya telah
menyebabkan segala lintasan kotor atau bisikan bisikan setan telah dapat
dibuang dan diganti dengan ilham dari malaikat atau Allah.
Firman Allah:
"Demi nafsu (manusia) dan yang membuatnya (Allah) lalu terinspirasi
Allah kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik, sesungguhnya
dapat kemenanganlah orang yang menyucinya (nafsu) dan rugilah
(Celakalah) orang yang mengotorkannya (nafsu)
Makam nafsu ini juga dikenal dengan nafsu SAMIAH. Pada pringkat ini
amalan baiknya sudah mengatasi praktik kejahatannya. Sifat mazmumah atau tercela telah diganti dengan mahmudah atau sifat terpuji. Sikap beibadat telah tebal dan praktek yang di anjurkan oleh guru terus dilakukan dengan lebih tekun lagi.
Pada penyesalan pada peringakat lawwamah tadi terus di dalam
jiwa. Sinyal lawwamah selalu subur. Sesungguhnya taubat orang
tingkat mulhamah ini adalah "taubatan nasuha". Bukan saja di mulut
tetapi hakiki.
Dalam kehidupan sudah terbina satu sikap yang baik, tabah menghadapi
dugaan, bila terlintas sesuatu yang ke arah maksiat mencoba-coba memohon
kepada perlindungan dari Allah.
Firman Allah:
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui.Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, bila mereka
ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketiak itu
juga mereka melihat kesalahan-kesalahan. "
Sabda Rasulullah S.a.w:
"Barangsiapa yang merasa senang dengan kebaikannya dan merasa susah
(Gelisah) dengan kejahatan yang dilakukan, maka itu orang-orang mukmin "
Zikir pada tingkat ini telah menyerap kedalam lubuk hatinya bukan sekedar
berlewa-lewa dibir saja lagi. Bahkan sudah menerima kenyataan nikmat zikir
dan zauk. Bila disebur nama Allah rindunya sangat besar, berderau darahnya
dan gemetar tubuhnya tanpa disengaja.
Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu, bagi mereka ketika saja
disebut nama Allah, niscaya gemetarlah seluruh hati mereka "
Perasaan ini terus menjalar sampai bertemu kekasihnya.
Antara sifat-sifat yang bernafsu mulhamah:
1. Sifat-sifat ketenangan, lapang dada dan tidak putus asa.
2. Tak sayangkan harta dalam beramal sedekah
3. Qanaah. tidak kawatir ketika dalam kekurangan. 
4. Berilmu laduni
5. Merendah diri / tawwadu '
6. Taubat hakiki
7. Sabar hakiki
8. Tahan tes dan menanggung kesusahan ujian dan cobaan. 
Mereka pada tingkat ini mulai masuk ke perbatasan maqam wali yakni
kerapkali mulai mencapai fana yang menghasilkan rasa makrifat dan hakikat
(Syuhud) tetapi belum teguh dan kemungkinan untuk kembali ke sifat
yang tidak baik masih ada. Kebanyakan orang cepat terhijab saat ini
karena terlalu asyik dengan anugerah Allah padahal itu hanyalah tes
semata-mata.
Dalam konteks ilmu pula mereka tidak hanya menguasai ilmu qalam malah
sudah dapat menguasai ilmu gaib melalui tiga cara laduni yaitu nur, cara
tajalli dan cara laduni di peringakat sir. Yang dimaksudkan dengan laduni
tingkat sir adalah melalui telinga batin yang terletak ditengah-tengah
kepala yang biasanya disebut bagian tanaffas. Suara yang diterima amat
jelas sekali. Tak ubah seperti mendengar suara telepon. Pada saat yang
sama pendengaran zahir tetap tidak terganggu meskipun saat menerima
laduni sir itu ada teman ngobrol. Biasanya suara gaib itu adalah waliyulah
atau ambia yang merupakan guru gaib yang bertugas mengajar ilmu
Terlihat pada mereka yang diperingkat mulhamah. Tapi harus ingat guru
murysid zahir kita tetap guru. Bahkan Guru mursyid kita sebenarnya telah
berkomunikasi terlebih dahulu dengan guru gaib ini. Sebab itu kalau
tak ada murysid kita akan terpedaya dengan setan dan jin yang
menyamar. Pembukaan telinga batin ini pada awalnya terjadi seakan suatu
bisikan suara yang dapat dibagian dalam anak telinga, dimana pada
permulaannya merasa berdesing. Kemudian barulah dapat dengar jelas.
Zikir tetap meningkat. Pada tingkat inilah Allah berfirman:
"Orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir
kepada Allah.Ingatlah hanya dengan berzikir kepada Allah sajalah hati
menjadi tenteram ".


4. NAFSU MUTMAINAH

Inilah tingkat / martabat nafsu yang pertama yang benar-benar diridhoi
Allah. Yang layak masuk surga Allah. Maknanya siapa sampai pada maqam ini berarti surga tetap terjamin, InsyaAllah. Kenyataan inilah yang difirmankan Allah:
"Wahai orang yang berjiwa / bernafsu mutmainnah, pulanglah kepangkuan
Tuhanmu dalam kondisi ridho meridhoi olehNya dan masuklah ke dalam
golongan HAMBAKU dan masuklah ke dalam surga ".
Pada tahap ini jiwa mutmainnah merasakan ketenagan hidup yang hakiki
yang bukan dibuat-buat. Tidak ada lagi perasaan gelisah. Semuanya lahir
dari tauhidnya yang tinggi dan mendalam. Tauhid yang sejati dan hakiki.
Tidak ada lagi perbedaan senang dengan susah baginya sama saja. Pada
maqam inilah awal mendapatkan derajat wali kecil.
Antara sifat-sifat maqam ini adalah:
1. Taqwa yang benar.
2. Arif bijaksana dalam menyelesaikan masalah.
3. Syukur yang benar
4. Tawakkal yang hakiki
5. Kuat beribadat
6. Ridho dengan ketentuan Allah
7. Murah hati dan menyenangkan bersedekah.
8. Dan lain-lain sifat mulia yang tidak dibuat-buat.
Pada maqam ini biasanya (meskipun tidak selalu), akan adanya
keramat-keramat yang luar biasa serta mendapat ilmu dengan tidak dengan jalan belajar sebab sudah dapat mendeteksi rahasia-rahasia dari Lohmahfuz. Adanya kata katanya mustajabah Apa yang keluar dari mulut bukan sembarangan lagi bahkan melalui yang disebut sebagai 'inkisaf'. Mereka sudah menguasai ilmu tingkat nur, tajalli, sir dan juga sirussir, yaitu lebih tinggi dari maqam mulhamah. Yang dikatakan melalui sirussir adalah cara penerimaan dengan telinga dan mata batin. Kalau mulhammah tadi baru terbuka dengan telinga batin tanpa mata batin. Dengan mata batin inilah dia berupaya melihat sesuatu yang gaib yang tak mampu dilihat oleh mata biasa kita. Bahkan dapat melihat sesuatu yang akan terjadi pada masa akan datang. Betul-betul macam melihat TV. Bahkan siap dapat rewind lagi. Kalau guru kita nak lihat sejarah hidup kita yang lalu biasanya dia akan memrhati rekaman hidup kita dan mendeteksi dimana kesalahan kita dan memberi tips untuk memperbaikinya. Kalau mencuri disuruhnya kita mengembalikan kembali serta minta halal dan maaf, dan sebagainya lagi. Namun begitu dia tetap akan menjaga aib muridnya kepada orang lain. Perlu dingat pada tingkat
ini dia tidak terganggu penglihatan dan pendengaran zahirnya saat
sama melihat dan mendengar yang batin bahkan duduk santai dan 
bersama-sama orang lain. Melalui penerimaan sirussir ini dia berupaya
melihat alam barzakh, menjelajahi alam alam malakut. Keyakinan mereka
sudah pada tingkat ainul yakin dan haqqul yakin.
Fana juga dapat terjadi yang dikenal sebagai "fana qalbi" yaitu merupakan
penyangkalan diri ataupun menyangkal maujud dirinya dan diisbatkan ke
wujudnya Allah semata-mata.Inilah tingkat LAA MAUJUD ILLALLAH. tidak ada wujud kecuali Allah, Kondisi inilah yang digambarkan Allah:
"Semua yang ada adalah fana (tidak ada intrinsik) .Dan yang kekal (baqa)
itu adalah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan "
Namun fana qalbi ini tidaklah kekal.

5. NAFSU RADHIAH

Maqam ini dinamakan radhiah karena perasaan keridhaan pada segala
ketentuan dan hukuman Allah. Pada maqam ini sudah tidak ada rasa takut
dengan pada bala Allah dan tak bergembira dengan nikmat. Sama
saja. Apa yang penting Allah ridha padaNya. Itu kalau sakitpun dah tak
perlu untuk obat, sebab bagi dia sakit itulah nikmat karena dia merasa
makin dekat dengan tuhannya. Uang sudah sama dengan daun kayu. Emas sama dengan tanah. Dunia sudah dipandang kecil, bahkan sudah
tidak dipandang lagi sebaliknya dunia yang datang kepadanya. rizqi sudah datang padanya tanpa dia berusaha, rizqi sudah dalam tanggungan Allah.
Firman Allah:
"Sesungguhnya wali-wali Allah itu tak rasa ketakutan dan tak pernah rasa
kerungsingan di atas mereka ".
Ini karena nur syhuhud sudah tertanam dalam jiwa mereka. Alam sekitar
seperti cermin yang dapat mereka melihat Allah setiap saat. Ini adalah
maqam musyahadah tingkat ihsan seperti hadis Rasulullah saw:
"Hendaklah kamu menyembah Allah sebagaimana kamu melihatNya ..."
INi adalah maqam wali dalam martabat Khawas.
Pada saat inilah apa yang diisyaratkan oleh rasulullah saw:
"Takutilah akan firasat orang mukmin, bahwasanya orang-orang mukmin
itu melihat dengan Nur Allah ".
Pada tingkat radhiah ini, ia melihat melalui basyirahnya, merenung dengan
kasyafnya, bertindak melalui perintah ilmu laduninya.Mulutnya dan doanya
sangat mustajab.'Barang dipinta akan jadi wujud" doanya di ijabah Allah.
Orang dimaqam ini kadang-kadang perbuatannya melanggar
syariat. karena dirinya tenggelam di samudera hakikat keridhoan Allah, Percakapan terkadang menyinggung orang biasa yang tak faham tapi dikeluarkan tanpa sengaja.Masih lagi mengalami fana qalbi.tapi
tidak menentu.Hidupnya ibarat dilambung gelora cinta seolah mengambang
bersama Allah.Hanya memandang dan menyaksikan sesuatu bahwa
tidak ada suatu yang ada di dunia ini kecuali wajah Allah semata-mata:
Firman Allah:
"Di mana saja kamu menghadap, maka disitulah wajah Allah
Itu yang terjadi pada Al Junaid: Tiada apa dalam jubahku, melainkan Allah.
Mereka sudah memandang yang banyak kepada satu.Keadaan inilah dapat
menimbulkan fitnah, bahkan kadang-kadang orang akan anggap gila. Inilah
maqam Ana'al Haq-Mansur Al-Hallaj.
Zikir pada tingkat ini adalah secara 'khafi' yang telah meliputi seluruh
anggota lahir dan batinnya. Pada tingkat inilah kulit berzikir, daging
berzikir, tulang berzikir, malah semuanya berzikir. seperti yang jadi darah Al-
Hallaj ketika tertumpah ke tanah membentuk tulisan Allah lalu keluar zikir, bahkan kematian wali-wali Allah yang lain yang dalam maqom ini. Kadang-
kadang mereka diundang mengeksplorasi alam ghaib kubra yang diluar akal
manusia. Bahkan mereka di ajar ilmu tinggi yang lebih canggih dari manusia
biasa yang bisa dicapai oleh zaman modern ini. Mereka bisa membuat
hubungan langsung dengan para rasul, nabi, ambia dan waliyullah yang lain. Mereka menuntut ilmu dengan aulia macam berbincang dengan teman melalui handphone, bahkan dapat berinteraksi massal meskipun masing-masing berada di berbeda tempat.
Sifat-sifatnya:
1. Ikhlas
2. Warak menjaga dari barang subhat.
3. Zahid menjauhi dunia dan kesenangan di dalamnya.
4. Dan lain-lain lagi yang baik yang ada pada maqam sebelumnya.


6. NAFSU MARDIYAH

Pada tahap ini segala yang keluar darinya semuanya telah diridhoi Allah. Perilakunya, kata-katanya, diamnya semuanya dengan kesenangan dan keizinan Allah belaka. Akan keluar keramat yang luar biasa. Mereka sudah menanam ingatan pada Allah diteras lubuk hati mereka melalui cara
"Khafi-filkhafi", maknanya secara penyaksiaan 'basitiah' yaitu penyaksian sifat ma'ani Allah yang nyata dan diungkapkan oleh diriNya sendiri. Af'al diri mereka sudah dinafi dan diisbahkan langsung kepada af'al Allah semata-mata. ingatan mereka terhadap Allah tidak sesaatpun berpisah darinya. Penyaksiaan terhadap hak sifat Allah jelas baginya sehingga hilang dirinya nya sendiri. Inilah dinyatakan sebagai Abu Yazib Bistami: "Subha Inni .."
 "Pandanglah yang satu pada yang banyak"
Tingkat ini sudah tenggelam dalam fana baqabillah. Pada tingkat inilah suka mengasingkan diri, tidak suka bergaul lagi dengan makhluk. Namun begitu ia mmepunyai kesadaran dua alam sekaligus. Zahir dan batin. Dan ia akan kembali normal seperti biasa. Kalau tingkat sebelum ini
mungkin sampai tak terurus. Konsep perjalanannya lebih kurang dengan radhiah.mereka berpegang
kepada konsep: 

Firman Allah:
"Apa yang di sisi kamu itu pasti lenyap dan apa yang ada di sisi Allah tetap
kekal ".
Sabda Rasulullah s.a.w:
"Apabila kamu sekalian melihat seseorang mukmin itu pendiam dan tenang,
maka dekatilah ia.Sesungguhnya dia akan mengajar kamu hikmah "
Menyentuh tentang zikirnya, zikirnya adalah zikir rahasia, tidak lagi ada lafaz
dengan lidah maupun hati, tapi seluruh anggota zahir dan batin
mengucapkan dengan zikir rahasia yang didengar oleh telinga batin di
maqam tanaffas. Zikirnya tidak pernah terganggu dengan alam zahir
meskipun dia tengah berbicara atau berbuat apa saja. dia melakukan apapun dalam keadaan dzikir, dan orang lain tak ada yang tau. dan dzikirnya sama sekali tak terganggu dengan perbuatannya sendiri atau perbuatan orang sekitarnya.
Firman Allah:
"Orang-orang berzikir kepada Allah sambil berdiri, sambil duduk dan dalam
keadaan berbaring ... "
Bagi mereka di maqam ini setiap perbuatan, perkataan, penglihatan dan apa
saja adalah zikir.
Pada tingkat ini memiliki kekeramatan yang sangat luar biasa. Namun
biasanya jarang sekali mengayomi kelebihannya itu. Dari segi ilmu,
mereka sudah memperoleh ilmu semua tingkat sebelumnya yaitu nur,
tajalli, sir, sirussir malah ditambah lagi dengan cara tawasul / yaitu secara
jaga dengan ambia dan waliyullah. Kehadiran wali-wali kepada orang
maqam mardiah ini lebih merupakan penghormatan dan ziarah saja.
sambil berbincang-bincang. Mereka berpeluang mengeksplorasi seluruh alam
alam maya dan alam ghaib termasuk surga, neraka dan sebagainya.
Mereka berupaya mengunjungi bermacam-macam tempat baik dengan
pecahan diri batinnya atau dengan jasad sekali. Bahkan dalam satu waktu
dapat menjelma di berbagai tempat. Ini disebut "Khawa Fulkhawaf". Ianya
terjadi tanpa sengaja dan tanpa dapat dikontrol.

Sifat-sifatnya:
1. Ridha dan rela dengan apa-apa pemberian Allah
2. Lemah lembut pergaulannya tak pernah marah, 
3. Elok dan tingginya budi
4. Lainnya sifat terpuji maqam sebelumnya.

7. KAMALIAH

Maqam ini adalah tertinggi. Maqam ini dijuluki sebagai "baqa billah", Kamil Mukamil ", kesempurnaan karena menyatu dengan yang maha sempurna, yaitu Allah, Al Insan kamil karena dapat menyatukan antara lahir dan batin, yakni ruh dan hatinya tetap kepada Allah tetapi zahir tubuh kasarnya tetap dengan manusia. Hati mereka tetap dengan Allah tak kira waktu dan tempat, tidur atau jaga selalu mereka bermusyahadah kepada Allah. Ini adalah maqam Khawas al Khawas. Semua gerak gerik mereka sudah jadi ibadat. sampai berak kencing mereka, tidur mereka dan sebagainya.
Ilmu mereka adalah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ghazali, ilham dan ilmu mukasyafah yang diterima nya tidak bukan adalah sama dengan istilah wahyu semuanya datang langsung dari Allah. Cuma kalau Rasul dan Nabi di panggil Wahyu dan manusia biasa yang kamil di panggil Ilham.
manusia yang mencapai derajad kamil mukamil ini yang akan bisa menuntun orang lain menuju kepada Allah, bisa menuntun karena tidak terpisahnya dirinya dengan Allah, orang yang sudah mencapau maqom ini sudah makrifat secara kaffah, ingat pengetahuan kepada Allah itu bukan lewat teori tapi karena Allah ingin di kenali, dan Allah hanya mau di kenal oleh orang yang di kehendakinya, dan yang di kehendakinya akan di bimbing untuk sampai padaNya. dan Allah menjadikan orang itu kuat membersihkan nafsu pibadinya, sampai mencapai maqom kedudukannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar